Liputan Dialog Psikologi Muis Andhika S.Psi., SM., MM.

Dialog Psikologi RRI. Kamis, 14 Mei 2026

PERAN KELUARGA SEBAGAI BENTENG PENCEGAHAN MASALAH SOSIAL DAN MORAL PADA REMAJA

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial yang semakin cepat, keluarga dinilai tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental, moral, dan masa depan remaja. Pesan itu mengemuka dalam program Dialog Psikologi yang disiarkan Radio Republik Indonesia bersama Himpunan Psikologi Malang.

Dalam dialog tersebut, Muis Andhika menyoroti semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi remaja masa kini. Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membawa manfaat besar, namun di sisi lain juga menghadirkan ancaman serius terhadap perkembangan sosial dan moral generasi muda.

“Remaja hari ini tumbuh di tengah dunia yang bergerak sangat cepat. Mereka tidak hanya menghadapi perubahan fisik dan emosional, tetapi juga tekanan sosial yang luar biasa. Karena itu, keluarga harus hadir sebagai tempat paling aman bagi anak untuk pulang dan bertumbuh,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut menegaskan bahwa menjaga keluarga bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menjaga akhlak, iman, dan keselamatan moral anggota keluarga.

Masa Remaja: Fase Paling Rentan

“Banyak remaja sebenarnya sedang terluka, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Kadang mereka terlihat membangkang, padahal sesungguhnya mereka hanya ingin dipahami,” jelasnya.

Memahami Fase Perkembangan Anak dan Remaja

Sebelum membahas lebih jauh, penting bagi kita memahami bahwa setiap anak memiliki fase perkembangan yang berbeda. Memahami fase ini membantu orang tua menyesuaikan pola asuh dan pendekatan emosional kepada anak.

Masa Anak-Anak

1. Anak Usia Dini (2–6 Tahun)

Pada masa ini anak mulai belajar mengenali emosi, lingkungan, serta membangun rasa aman dari keluarga.

2. Akhir Masa Anak-Anak

Perempuan: 6–13 tahun

Laki-laki: hingga sekitar 14 tahun

Pada fase ini anak mulai belajar bersosialisasi lebih luas, mengenal aturan, serta mulai mudah terpengaruh lingkungan sekitar.

Masa Remaja

1. Praremaja / Pubertas

Perempuan: 11–15 tahun

Laki-laki: 12–16 tahun

Fase ini ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan psikologis yang sangat cepat. Anak mulai mencari identitas dirinya.

2. Remaja (13–18 Tahun)

Pada masa ini remaja mulai mempertanyakan banyak hal: siapa dirinya, apa tujuan hidupnya, dan bagaimana ia diterima lingkungan sosialnya.

Inilah masa paling rentan. Bila tidak didampingi dengan kasih sayang, perhatian, dan komunikasi yang sehat, maka remaja dapat mencari jawaban dari tempat yang salah.

Fenomena Masalah Sosial pada Remaja

Hari ini kita menyaksikan banyak persoalan sosial yang semakin dekat dengan kehidupan remaja:

1. Perundungan (Bullying dan Cyberbullying)

Bukan hanya terjadi di sekolah, tetapi juga melalui media sosial. Luka akibat hinaan sering kali lebih dalam daripada luka fisik.

2. Tekanan Teman Sebaya (Peer Pressure)

Banyak remaja melakukan sesuatu bukan karena ingin, tetapi karena takut tidak diterima kelompoknya.

3. Kenakalan Remaja

Penyalahgunaan narkoba, minuman keras, tawuran, hingga perilaku seksual bebas menjadi ancaman nyata.

4. Krisis Mental dan Identitas

Remaja mengalami kecemasan, depresi, stres, dan kebingungan menentukan arah hidup.

5. Kecanduan Media Sosial dan Gawai

Mereka tumbuh dengan budaya membandingkan diri, mengejar validasi, dan kehilangan fokus pada kehidupan nyata.

6. Konflik Keluarga dan Akademik

Hubungan yang renggang dengan orang tua sering membuat anak merasa sendirian dan kehilangan tempat bercerita.

Selain masalah sosial, kita juga menghadapi tantangan moral yang semakin berat.

1. Degradasi Moral di Media Digital

Kurangnya literasi digital membuat sebagian remaja mudah terlibat dalam ujaran kebencian, penyebaran konten negatif, dan perilaku tidak etis.

2. Perilaku Seksual Berisiko

Meningkatnya kasus seks bebas, aborsi, dan pernikahan dini menunjukkan adanya pergeseran nilai moral yang serius.

3. Kekerasan dan Kriminalitas

Tawuran pelajar, geng motor, penggunaan senjata tajam, hingga keterlibatan dalam tindak kriminal menjadi alarm bagi kita semua.

4. Krisis Karakter dan Sopan Santun

Menurunnya rasa hormat kepada guru dan orang tua adalah tanda bahwa pendidikan karakter harus kembali diperkuat.

Reaksi Emosional yang Dialami Remaja

Di balik perilaku yang tampak keras, sering kali remaja sebenarnya sedang terluka. Mereka mengalami:

  1. Sedih
  2. Marah
  3. Kecewa
  4. Takut
  5. Cemas
  6. Bingung

Sayangnya, banyak remaja tidak tahu bagaimana menyampaikan perasaannya. Mereka terlihat membangkang, padahal sebenarnya sedang meminta dipahami.

Keluarga: Benteng Pertama dan Utama

Dalam kondisi seperti ini, keluarga memiliki peran yang sangat besar.

1. Mengenali Lingkungan Pertemanan Anak

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.”

(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Orang tua perlu mengetahui dengan siapa anak bergaul. Tidak semua teman memiliki pengaruh yang sama.

Tingkatan Pertemanan

  1. Kenalan — hubungan biasa dan tidak mendalam.
  2. Teman Kasual — sering bertemu dalam aktivitas tertentu.
  3. Teman Dekat — tempat berbagi cerita dan dukungan.
  4. Sahabat — hubungan yang tulus dan penuh kepercayaan.
  5. Teman Seumur Hidup — mereka yang tumbuh bersama dalam perjalanan panjang kehidupan.

Karena itu, orang tua tidak cukup hanya bertanya, “Pergi ke mana?” tetapi juga perlu memahami, “Bersama siapa?”

Pentingnya PFA dalam Keluarga

Keluarga juga perlu memahami keterampilan sederhana dalam mendampingi anak yang sedang mengalami masalah psikologis, yaitu PFA (Psychological First Aid).

PFA adalah serangkaian keterampilan sederhana yang dilakukan secara sistematis untuk membantu mengurangi dampak psikologis dari suatu masalah dan mempercepat proses pemulihan.

Tujuan PFA

  1. Mengurangi dampak negatif dari situasi sulit
  2. Mencegah gangguan psikologis yang lebih berat
  3. Membantu pemulihan mental remaja
  4. Memberikan ruang aman untuk bercerita

Prinsip Dasar PFA

1. LOOK (Melihat)

Perhatikan perubahan perilaku anak. Jangan abaikan tanda-tanda kesedihan, kemarahan, atau menarik diri.

2. LISTEN (Mendengarkan)

Dengarkan tanpa menghakimi. Kadang anak tidak membutuhkan solusi cepat, tetapi hanya ingin dipahami.

3. LINK (Menghubungkan)

Bantu anak terhubung dengan dukungan yang tepat: keluarga, guru, lingkungan positif, atau tenaga profesional.

Tanda Kesehatan Mental Remaja yang Terjaga

Ketika keluarga menjalankan perannya dengan baik, maka remaja akan menunjukkan tanda-tanda positif, seperti:

  1. Merasa lebih Bahagia
  2. Mampu bangkit dari kekecewaan
  3. Memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan teman
  4. Menjalani pola hidup sehat
  5. Kembali semangat belajar
  6. Memiliki motivasi meraih prestasi
  7. Mampu mengatur waktu dan istirahat
  8. Menjalin hubungan sosial yang sehat

Renungan bagi para orang tua, Masa kebersamaan orang tua dan anak sebenarnya sangat singkat. Jangan sampai penyesalan datang ketika waktu itu telah berlalu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pesan Bagi Orang Tua

Mendidik anak membutuhkan kesabaran yang panjang. Membangun karakter memerlukan waktu bertahun-tahun, tetapi menghancurkannya bisa terjadi hanya dalam hitungan hari.

Sebagaimana perjuangan Siti Hajar saat berlari antara Shafa dan Marwah demi menyelamatkan anaknya dari dahaga, begitulah perjuangan orang tua dalam menjaga anak-anaknya di tengah kerasnya zaman.

Didiklah anak dengan cinta, keadilan, dan kasih sayang.

Pesan Bagi Para Remaja

Kalian memang hidup di zaman yang berat. Fitnah dan godaan datang dari berbagai arah. Tetapi ingatlah, tidak ada seorang nahkoda yang hebat tanpa pernah melewati ombak samudra yang ganas.

Kalian kuat. Kalian berharga. Dan kalian tidak sedang berjuang sendirian.

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita semua kesabaran, ilmu, dan kekuatan dalam mendidik anak-anak kita. Dan kepada para remaja, semoga Allah menguatkan hati kalian di tengah badai sosial dan krisis moral zaman ini. Kami tahu kalian belum sepenuhnya kuat, tetapi keadaan memaksa kalian untuk belajar menjadi kuat.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah, menjaga keluarga kita, memperbaiki kehidupan kita, dan menjadikan anak-anak kita generasi yang berakhlak, tangguh, serta penuh harapan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin